FTI UBH Bekali Calon Wisudawan dengan Wawasan Profesi Insinyur

FTI UBH Bekali Calon Wisudawan dengan Wawasan Profesi Insinyur

22 Pebruari 2020
FTI-UBH. Dalam rangka menyiapkan lulusan yang berdaya saing tinggi, FTI UBH menggelar kegiatan sosialisasi Profesi Insinyur, Jum’at (21/2/20), di Ruang Sidang FTI Kampus 3 Universitas Bung Hatta, Gunung Panggilun.

Dalam kegiatan ini, dihadirkan narasumber dari Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat, Ir. Muhammad Ade Irvan, MBA, IPM yang saat ini menjadi Sekjen PII Badan Kejuruan Teknik Mesin (BKM Pusat).

Dekan FTI, Dr. Ir. Hidayat, M.T., IPM mengungkapkan bahwa kegiatan yang bertajuk “Tantangan dan Urgensi Profesi Insinyur di Era IR. 4.0” ini betujuan agar lulusan memiliki kepahaman dengan urgensi profesi insinyur. Dengan demikian, mereka dapat memilih jalur yang akan ditempuh untuk mewujudkan impian masa depan setelah menyelesaikan studi S-1.

Dalam paparanya, Irvan mengungkapkan bahwa profesi insinyur merupakan salah satu dari tujuh bidang keprofesian yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 036/U/1993, Undang-Undang No.12 tahun 2012 tentang Dikti, Perpres No.8 tahun 2012 tentang KKNI, Undang-Undang nomor 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran serta Permenristekdikti No.44 tahun 2015 tentang SNDIKTI.

Keinsinyuran merupakan kegiatan teknik dengan menggunakan kepakaran dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan keselamatan, kesehatan, kemaslahatan, serta kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Sementara itu, insinyur adalah seseorang yang mempunyai gelar profesi di bidang keinsinyuran.

Dengan demikian, orang yang akan melakukkan praktik keinsinyuran harus memiliki standar kompetensi insinyur sehingga dapat menjawab kebutuhan dan tantangan pembangunan pada bidang teknologi, industri, dan infrastruktur di Indonesia. Layaknya seperti Sarjana Kedokteran (S.Ked) yang harus mengikuti program Profesi Kedokteran sebelum berpraktik sebagai dokter.

Selain itu, PII juga telah menjadi anggota organisasi keinsinyuran tingkat dunia, seperti World Federation of Engineering Organizations (WFEO) dan ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO), diharapkan standar kompetensi insinyur di Indonesia dapat menjawab kebutuhan dan tantangan global serta melahirkan insinyur yang memiliki kompetensi dan dapat bersaing dengan insinyur dari negara lain di dunia.

Pendidikan profesi insinyur merupakan kelanjutan dari pendidikan strata-1 (S-1) yang telah berjalan selama ini dan lulusannya memiliki kemampuan akademik, yakni berpikir kritis (analitik dan sintetik) dan kemampuan merancang.

Termasuk juga menguasai keterampilan teknis keinsinyuran, seperti layanan konsultasi, pembuatan prarancangan, proses perizinan, pengembangan rancangan, serta penyelesaian berbagai dokumen�teknis dan tender.

Menguasai kode kesesuaian (code of compliances), baik itu menyangkut pelayanan terhadap klien,�maupun kesesuaian terhadap peraturan dan masalah keteknikan, seperti�konstruksi bangunan, mekanikal, dan elektrikal.

Dalam PermenRistekDikti juga disebutkan bahwa program profesi insinyur merupakan program pendidikan tinggi setelah program sarjana untuk membentuk kompetensi keinsinyuran. Peserta yang telah dinyatakan lulus program pendidikan profesi insinyur memperoleh sertifikat profesi insinyur dari perguruan tinggi dan berhak menggunakan gelar profesi keinsinyuran disingkat �Ir�.

Seseorang yang telah memiliki sertifikat profesi insinyur dapat mengikuti uji kompetensi insinyur profesional yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi. Insinyur yang telah lulus uji kompetensi insinyur profesional akan memperoleh sertifikat kompetensi sebagai insinyur profesional.

Sertifikat kompetensi adalah dokumen pengakuan kompetensi untuk melakukan praktik keinsinyuran dan syarat untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI).

Iman Satria, S.T., M.T, Dosen Prodi Teknik Mesin, yang juga Sekjen PII Wilayah Sumbar, turut hadir dan menginisiasi kegiatan tersebut.

Iman mengimbau agar calon wisudawan segera menentukan pilihannya. Jika hendak melakukan praktik keinsinyuran, bersegeralah melanjutkan ke Program Studi Profesi Pendidikan Insinyur (PS-PPI) yg ada di 40 perguruan tinggi di Indonesia.